Pages - Menu

1/31/2014

Optimisme, Angin Segar, dan 2014

Bagi sebagian besar orang tahun 2014 memang tak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagian lagi memandang tahun ini mungkin sebagai suatu tantangan dan lonjakkan besar dalam hidupnya, pun gue. Di tahun 2014 ini (semoga) gue dan teman-teman  se-angkatan seluruh Indonesia ber-transformasi menjadi seorang mahasiswa. Ya, semoga.

Namun, hal lain yang lebih bikin gue antusias untuk tahun ini adalah: Pergantian Presiden. Pilpres tepatnya. Sehubungan dengan berakhirnya batas maksimal seseorang menjabat menjadi seorang presiden (dua kali periode) maka tahun ini kita akan kedatangan pemimpin baru:

Presiden RI Ke-7.

Beberapa nama mulai mencuat dan bahkan telah menyatakan siap untuk memposisikan diri menjadi RI 1. Banner-banner di portal berita online, surat kabar, televisi, baliho sampai kepada barang untuk bantuan korban bencana yang tak satupun luput dari kata pencitraan.

Mulai dari jendral, gubernur yang baru setahun menjabat, kalangann pengusaha,warga sipil, akademisi, raja media hingga raja dangdut tak ketinggalan meramaikan bursa capres 2014.

Sementara itu, di sistem yang lebih sederhana semisal tingkat provinsi dan tingkat kota, telah lebih dulu diisi pemimpin-pemimpin baru dengan konsep yang lebih fresh dari para pendahulu.


Menemukan Arah

Menjadi suatu yang menarik, politik Indonesia mulai beranjak dari masa kelabunya. Sistem tata pemerintahan mulai disesaki oleh orang-orang yang memang tampil untuk mengabdi dan bermanfaat banyak bagi masyarakat luas. Sebagian besar rakyat telah gusar cenderung jenuh dengan para pemimpin yang hanya umbar janji, masyarakat juga seolah telah mengetahui mana pemimpin yang berkepentingan pribadi dan yang tidak.

Siklus 20-30 Tahunan

Seperti yang telah kita ketahui bersama, mereka yang akhirnya mengisi tampuk pemerintahan adalah golongan pemuda. Memang sudah sejak lama pemuda menjadi pondasi utama untuk tegaknya bangsa ini. Mulai dari tahun 1908 dengan Budi Utomo-nya, sumpah pemuda di tahun 1928, mereka yang memproklamirkan kemerdekaan tahun 1945, tragedi 1966, hingga reformasi yang meruntuhkan diktator di tahun 1998.  

Ini sebuah siklus yang sungguh menarik untuk kita nantikan lagi kedatangannya.

Terhitung 16 tahun lebih kita beranjak dari krisis 98 hingga sekarang. Idealnya, kita hanya butuh 4-5 tahun lagi untuk mengulang siklus tersebut dan membubukan lagi catatan sejarah bagi bangsa ini. Atau bahkan kita telah memasuki era itu dan tanpa sadari kita mulai membukukan catatan-catatan baik untuk Ibu Pertiwi? 

Wajah Baru
 
Figur-figur pemangku kebijakan telah berpindah tangan kepada mereka yang mungkin akan menjadi agen-agen perubahan, para pemuda yang di harapkan, sosok yang telah dinantikan. Didahului oleh Jawa Barat melalui Ahmad Heryawan, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, Tri Rismaharani dan Surabaya, Jakarta bersama Joko Widodo, Bogor dengan Walikota periode 2014-2019 nya, Bima Arya, hingga yang akhir-akhir ini menjadi headline berbagai berita, Ridwan Kamil serta Bandung, dan mungkin masih banyak orang-orang seperti mereka yang belum banyak diketahui oleh khalayak.

Harapan besar terjunjung, dahaga atas integritas mulai terpenuhi, angin segar bertiup, saatnya kembalikan kepercayaan masyarakat pada politik!


Buku "Nasionalisme Unggul: Bukan Hanya Slogan" | Dino Patti Djalal

Menantikan perubahan tercipta? Hanya menantikan saja, atau memilih untuk ikut didalamnya? :))

Pemuda.

Ubah.

2014.

Generasi emas politik Indonesia.

Menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, 

semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar